
“Lho, kunci motor saya dimana?”
“Dompet saya dimana neh..?”
Nah, pernahkan Anda tiba-tiba saja kehilangan daya ingat akan sesuatu yang sebenarnya merupakan hal sepele seperti di atas? Jika pernah, berarti Anda harus waspada!
Tahukah Anda, berdasar hasil penelitian para ahli di Unviersity of California, stres jangka pendek yang berlangsung hanya beberapa jam dapat merusak komunikasi sel otak di beberapa daerah yang berhubungan dengan kemampuan belajar dan daya ingat.
Pada umumnya, stres berat yang berlangsung selama beberapa pekan atau bulan dapat merusak komunikasi sel di wilayah ingatan dan kemampuan belajar di otak, tapi studi terbaru membuktikan bahwa stres jangka pendek memiliki dampak yang sama.
Dalam Journal of Neurosicence disebutkan, stres terus terjadi dalam hidup kita dan tak dapat dielakkan. Maka, para ahli pun mulai mengembangkan penelitian tentang obat yang mungkin dapat mencegah dampak yang tak diinginkan dan menawarkan pemahaman mengenai mengapa sebagian orang lupa atau memiliki kesulitan untuk mempertahankan informasi selama situasi penuh tekanan.
Dalam penelitian terungkap adanya suatu proses baru cara stress yang dapat mengakibatkan dampak itu. Mereka mendapati bahwa bukannya melibatkan hormon yang dikenal luas sebagai penyebab stres, cortisol, yang mengalir di seluruh tubuh, stres akut malah mengaktifkan molekul tertentu yang disebut corticotropin releasing hormones (CRH), yang mengganggu proses cara otak mengumpulkan dan menyimpan ingatan.
Para peneliti tersebut mendapati bahwa menghalangi interaksi molekul CRH dengan molekul reseptor menghilangkan kerusakan stres pada daerah yang terlibat dengan cara belajar dan ingatan. Tampaknya ada kumpulan yang terbentuk yang memperlihatkan kemampuan untuk menghalangi reseptor CRH, dan studi itu dapat memainkan peran dalam pembentukan terapi berdasarkan kumpulan itu guna menangani kehilangan daya ingatan dan kemampuan belajar yang berkaitan dengan stres.
Jadi, bila tiba-tiba Anda lupa menaruh gelas yang baru saja Anda gunakan atau tak ingat di mana terakhir kali meletakkan kunci mobil, hati-hati…jangan-jangan Anda stres!
22 April 2009
Lupa Karena Stres
Diposting oleh
Majalah Adinfo Depok
Pukul
Rabu, April 22, 2009
0
komentar
Rubrikasi Psikologi
30 Maret 2009
BRAIN GYM (Gerak Latih Otak) Sebagai Solusi Problema Performa Otak
Dalam perjalanan kehidupan yang ditempuh oleh seseorang, menjadi tua adalah bagian dari petualangan yang tidak bisa dihindari, yang biasanya ditandai dengan gejala semakin mundurnya fungsi intelektual. Kemunduran fungsi intelektual ini berupa mudah lupa atau sampai pada kemunduran yang ditandai dengan kepikunan.
Di masa lampau, masyarakat beranggapan bahwa otak manusia yang berperan dalam fungsi intelektual, pada satu tahapan tertentu sudah tidak mampu berkembang lagi, artinya kalau otak sudah mengalami kemunduran sifatnya adalah permanen. Tetapi sejak tahun 1960, pengkajian dan penelitian otak membuktikan bahwa otak ternyata masih bisa berkembang walaupun telah mengalami degenerasi bahkan sampai usia berapapun, asal otak memperoleh stimulasi terus-menerus, baik secara fisik maupun mental.
Stimulasi lingkungan yang dimaksud bisa berbagai macam aktifitas, sosialisasi, membaca, kegiatan religius dan sebagainya. Brain gym atau senam otak atau Gerak Latih Otak adalah salah satu stimulasi dari lingkungan dengan konsep ‘‘move your brain through exercise’’. Suatu gerakan yang mampu untuk memberikan stimulasi pada otak, yang secara tidak langsung mempengaruhi potensi dan sumber daya otak.
Berikut enam gerakan dasar untuk senam otak yang bisa Anda gunakan untuk berlatih kapan saja dan dimana saja, yang bermanfaat sebagai solusi problema performa otak yang mungkin sedang Anda alami:
1. Gerakan silang
Cara : Kaki dan tangan digerakkan secara berlawanan. Bisa ke depan, samping, atau belakang. agar lebih ceria Anda bisa menyelaraskan gerakan dengan irama musik.
Manfaat : merangsang bagian otak yang menerima informasi (receptive) dan bagian yang menggunakan informasi (expressive) sehingga memudahkan proses mempelajari hal-hal baru dan meningkatkan daya ingat.
2. Olengan pinggul
Cara : Duduk di lantai. Posisi tangan ke belakang, menumpu ke lantai dengan siku di tekuk. Angkat kaki sedikit lalu oleng-olengkan pinggul ke kiri dan ke kanan dengan rileks.
Manfaat : mengaktifkan otak untuk kemampuan belajar, melihat ke kiri dan ke kanan, kemampuan memperhatikan dan memahami.
3. Pengisi energi
Cara: Duduk nyaman di kursi, kedua lengan bawah dan dahi di letakkan di atas meja. Tangan ditempatkan di depan bahu dengan jari-jari menghadap sedikit ke dalam. Ketika menarik napas, rasakan napas mengalir ke garis tengah seperti pancuran energi, mengangkat dahi, kemudian tengkuk, dan terakhir punggung atas. Diafragma dan dada tetap terbuka dan bahu tetap rileks.
Manfaat: mengembalikan vitalitas otak setelah serangkaian aktivitas yang melelahkan, mengusir stress, meningkatkan konsentrasi dan perhatian serta meningkatkan kemampuan memahami dan berpikir rasional.
4. Menguap berenergi
Cara : Bukalah mulut seperti hendak menguap lalu pijatlah otot-otot di sekitar persendian rahang. Lalu menguaplah dengan bersuara untuk melemaskan otot-otot tersebut.
Manfaat : Mengaktifkan otak untuk peningkatan oksigen agar otak berfungsi secara efesien dan rileks, meningkatkan perhatian dan daya penglihatan, memperbiki komunikasi lisan dan ekspresif serta meningkatkan kemampuan untuk memilah informasi.
5. Luncuran gravitasi
Cara : Duduk di kursi dan silangkan kaki. Tundukkan badan dengan lengan ke depan bawah. Buang napas ketika turun dan ambil napas ketika naik. Lakukan dengan posisi kaki berganti-ganti.
Manfaat : Mengaktifkan otak rasa keseimbangan dan koordinasi, meningkatkan kemampuan mengorganisasi dan meningkatkan energi.
6. Tombol Imbang
Cara : Sentuhkan dua jari ke belakang telinga, pada lekukan di belakang telinga sementara tangan satunya lagi menyentuh pusar selama kurang lebih 30 menit.
Dari Berbagai Sumber
Diposting oleh
Majalah Adinfo Depok
Pukul
Senin, Maret 30, 2009
0
komentar
Rubrikasi Psikologi
26 November 2008
Mengantisipasi School Refusal
Heningnya pagi ini sontak terpecah kala teriakan Dwi menggema di ruang dapur dengan masih mengenakan piyama. “Aku nggak mau sekolah....pokoknya enggaaaaak !!! Perutku sakit, Maaaa....aku nggak enak badan...lagian aku nggak suka sekolah....aku mau di rumah ajaaaa !!”Sepertinya jeritan Dwi bukanlah hal yang baru. Setiap orangtua pasti pernah mengalami hal yang dialami oleh orangtua Dwi. Ketika anak tidak mau sekolah, semua alasan-alasan pendukung pun keluar dari mulut si kecil, yang menandakan bahwa ia melancarkan aksi mogok sekolah.
Fobia sekolah adalah bentuk kecemasan yang tinggi terhadap sekolah yang biasanya disertai dengan berbagai keluhan yang tidak pernah muncul atau pun hilang ketika “masa keberangkatan” sudah lewat, atau pada hari libur. Fobia sekolah dapat sewaktu-waktu terjadi pada setiap anak hingga usianya 14-15 tahun, saat dirinya mulai bersekolah di sekolah baru atau menghadapi lingkungan baru atau pun ketika ia menghadapai suatu pengalaman yang tidak menyenangkan di sekolahnya.
Menurut para ahli, ada beberapa tingkatan school refusal (fobia sekolah). Mulai dari yang ringan hingga yang berat yaitu, Initial school refusal behavior (adalah sikap menolak sekolah yang berlangsung dalam waktu yang sangat singkat (seketika/tiba-tiba) yang berakhir dengan sendirinya tanpa perlu penanganan), Substantial school refusal behavior (adalah sikap penolakan yang berlangsung selama minimal 2 minggu), Acute school refusal behavior (adalah sikap penolakan yang bisa berlangsung 2 minggu hingga 1 tahun, dan selama itu anak mengalami masalah setiap kali hendak berangkat sekolah), Chronic school refusal behavior (adalah sikap penolakan yang berlangsung lebih dari setahun, bahkan selama anak tersebut bersekolah di tempat itu).
Dan jika ini terjadi, sebaiknya Anda tak perlu merasa panik berkepanjangan. Berikut ini beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk menanggulangi masalah fobia sekolah yang dialami si kecil.
Tetap Menekankan Pentingnya Bersekolah
Para ahli pendidikan dan psikolog berpendapat bahwa terapi terbaik untuk anak yang mengalami fobia sekolah adalah dengan mengharuskannya tetap bersekolah setiap hari (the best therapy for school phobia is to be in school every day). Karena rasa takut harus diatasi dengan cara menghadapinya secara langsung. Makin lama dia “diijinkan” tidak masuk sekolah, akan makin sulit mengembalikannya lagi ke sekolah, dan bahkan keluhannya akan makin intens dan meningkat. Tetaplah bersikap hangat, penuh pengertian, namun tegas dan bijaksana sambil menenangkan anak bahwa semua akan lebih baik setibanya dia di sekolah.
Berusahalah untuk tetap tegas dan konsisten
Entah karena pusing mendengar suara anak atau karena amat mengkhawatirkan kesehatan anak, orangtua seringkali meluluskan permintaan anak. Tindakan ini tentu tidak sepenuhnya benar. Dan hal penting yang harus diingat adalah hindari sikap menjanjikan hadiah jika anak mau berangkat ke sekolah, karena hal ini akan menjadi pola kebiasaan yang tidak baik, yang berakibat anak tidak akan mempunyai kesadaran sendiri kenapa dirinya harus sekolah dan terbiasa memanipulasi orangtua/lingkungannya.
Lepaskan anak secara bertahap
Pengalaman pertama bersekolah tentu mendatangkan kecemasan bagi anak, terlebih karena ia harus berada di lingkungan baru yang masih asing baginya dan tidak dapat ia kendalikan sebagaimana di rumah. Lepaskan anak secara bertahap, misalnya pada hari pertama, orangtua berada di dalam kelas dan lama kelamaan bergeser sedikit-demi sedikit di luar kelas namun masih dalam jangkauan penglihatan anak. Jika anak sudah bisa merasa nyaman dengan lingkungan baru dan tampak “happy” dengan teman-temannya maka sudah waktunya bagi orangtua untuk meninggalkannya di kelas dan jangan bersikap overprotective, demi menumbuhkan rasa percaya diri pada anak dan kemandirian.
Bekerjasama dengan guru kelas atau asisten lain di sekolah Pada umumnya para guru sudah biasa menangani masalah fobia sekolah atau pun school refusal (terutama guru-guru preschool hingga TK). Karena itu orangtua bisa minta bantuan pihak guru untuk menenangkan si buah hati. Guru yang bijaksana, tentu bersedia memberikan perhatian ekstra terhadap anak yang mogok untuk mengembalikan kestabilan emosi sambil membantu anak mengatasi persoalan yang yang membuatnya cemas, gelisah dan takut. Selain itu, berdiskusi dengan guru untuk meneliti faktor penyebab di sekolah (misalnya diejek teman, dipukul, dsb) adalah langkah yang bermanfaat dalam upaya memahami situasi yang biasa dihadapi anak setiap har
Diposting oleh
Majalah Adinfo Depok
Pukul
Rabu, November 26, 2008
0
komentar
Rubrikasi Psikologi
05 Januari 2008
Aman dan Nyaman Menyaksikan Naruto di Layar Kaca

Seperti biasanya, sosok Naruto, yang tengah dikagumi anak-anak, remaja bahkan orang dewasa, jadi kambing hitam dari kelalaian kita para orangtua.
Hampir setiap hari, anak-anak dan remaja kita, bahkan Anda sendiri, rajin menyaksikan film kartun di televisi. Tontonan film kartun memang mengasyikan.
Sudah pasti, kebanyakan orang, tak hanya anak-anak, merasa otak lebih fresh dan rileks saat melihat film kartun. Mungkin banyak diantara kita yang merasa malu ketika menonton film kartun karena takut dikatakan, "Payah masih kekanak-kanakan,” atau “Belum dewasa!!"
Tahukah Anda, sebenarnya hampir semua film yang beredar di Indonesia, terutama yang melalui layar kaca, banyak sekali memberikan contoh perilaku yang tidak baik, seperti kekerasan dan budaya yang tak sesuai dengan kebudayaan bangsa kita.
Justru dengan menonton film kartun, jiwa kekanak-kanakkan kita akan kembali, sehingga dapat membuat sebuah keseimbangan dalam diri kita. Dalam jiwa anak-anak itu, pada dasarnya tidak pernah ada dendam, egoisme, kekerasan, maupun permusuhan. Dalam diri mereka yang ada hanya ceria, tawa, persahabatan, kebaikan. Sifat-sifat tersebutlah yang dapat meredam semua sifat buruk yang ada pada orang dewasa dan dapat mengontrol diri kita agar tak melakukan tindakan amoral.
Selain itu, dengan menonton film kartun, otak kita yang tegang dan stres akibat permasalahan yang kita hadapi setiap harinya dapat menjadi lebih fresh dan rileks, hal ini dikarenakan sewaktu kita menonton film kartun tersebut kita ikut terlarut dalam keceriaan yang ada dalam setiap ceritanya. Kita akan terhanyut dalam indahnya khayalan dan imajinasi sang pengarang cerita film kartun tersebut, hingga sejenak kita lepas dari semua beban yang menindih pundak kita. Dengan sendirinya tanpa kita sadari pula, kita telah mengobati penyakit yang banyak diderita oleh hampir seluruh orang dewasa di bumi tanpa mengeluarkan sedikitpun biaya dan tanpa terapi khusus. Bukankah itu menguntungkan!!!
Lantas apa solusinya untuk memberikan ‘pencerahan’ kepada para pemirsa cilik film kartun macam Naruto atau Avatar?
- Sediakan waktu khusus untuk mendampingi si kecil menyaksikan tayangan kartun di televisi.
- Sediakan waktu khusus nonton televisi untuk si kecil agar tak mengganggu jam belajarnya.
- Matikan televisi atau jangan biarkan si kecil menyaksikan tayangan bagi orang dewasa.
- Beri nasihat atau masukan kepada si kecil usai menyaksikan tayangan kartun.
Diposting oleh
Majalah Adinfo Depok
Pukul
Sabtu, Januari 05, 2008
0
komentar
Rubrikasi Psikologi