
Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke, sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Di saat orang-orang terlelap, malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.
"Jika dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!" kata malaikat.
"Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang ..." jawab si pengusaha dengan yakin.
Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.
Tepat pukul 23:00, malaikat kembali mengunjunginya. Penuh antusiasnya si pengusaha bertanya, "Apakah besok pagi aku sudah pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2 ribu orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit."
Dengan lembut malaikat berkata, "Aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi, rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu."
Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, malaikat menunjukkan layar besar yang memperlihatkan 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari isteri si pengusaha, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putera-puterinya yang berdoa dengan khusuk dengan air mata di pipi mereka.
Kata Malaikat, "Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua - itu karena doa isterimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu."
"Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar di hadapanMu. Tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah dan hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri," doa sang isteri.
Melihat peristiwa itu, tanpa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha. Timbul penyesalan bahwa selama ini dia bukanlah suami yang baik dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya, dan malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta isteri dan anak-anak padanya.
Dengan setengah bergumam dia bertanya, "Apakah di antara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?"
"Ada beberapa yang berdoa buatmu tapi mereka tidak tulus, bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini, itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik, bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah.”
Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia, tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan isterinya yang setia.
Pukul 24.00, malaikat berkata, "Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu!! Kau tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24.00."
Dengan terheran-heran dan tidak percaya,si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.
"Bukankah itu panti asuhan?" kata si pengusaha pelan.
"Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri."
"Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca berita di koran, tentang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU. Akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu."
Jadi pembaca, bayangkan jika diri Anda mati nanti, apakah orang di sekeliling Anda akan kehilangan, atau sebaliknya mereka mengabaikan atas kematian Anda? Mumpung masih diberi umur, lakukanlah yang terbaik untuk orang-orang di sekitar kita.
24 November 2009
Pengusaha dan Malaikat
Diposting oleh
Majalah Adinfo Depok
Pukul
Selasa, November 24, 2009
0
komentar
Rubrikasi Refleksi
22 April 2009
Jangan Melaju Terlalu Cepat…!

Tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar dengan penuh rasa bangga dan prestis. Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu.
Tiba-tiba, dia melihat seseorang anak kecil yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. “Buk….!”
Aah…, ternyata, ada sebuah batu seukuran kepalan tangan yang menimpa Jaguar itu yang dilemparkan seorang anak.
Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang. “Cittt….” Ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, dimundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu dilemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha dalam hati.
Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Ditariknya anak yang dia tahu telah melempar batu ke mobilnya, dan dipojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.
“Apa yang telah kau lakukan!? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!! Lihat goresan itu!” Teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu.
“Kamu tentu paham, mobil baru jaguarku ini akan butuh banyak ongkos di bengkel untuk memperbaikinya.“ Ujarnya lagi dengan kesal dan geram, tampak ingin memukul anak itu. Si anak tampak menggigil ketakutan dan pucat, dan berusaha meminta maaf.
“Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa.“ Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun.
“Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti….” Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi.
“Itu di sana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Saya tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak seorang pun yang mau menolongku. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan..” Kini, ia mulai terisak. Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu.
“Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi saya tak sanggup mengangkatnya.” Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam.
Amarahnya mulai sedikit reda setelah dia melihat seorang lelaki yang tergeletak yang sedang mengerang kesakitan. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera dia berjalan menuju lelaki tersebut, diangkatnya si cacat itu menuju kursi rodanya.
Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut yang memar dan tergores, seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya. Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja.
“Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatan Bapak.”
Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.
Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Ditelusurinya pintu Jaguar barunya yang telah tergores itu oleh lemparan batu tersebut, sambil merenungkan kejadian yang baru saja dilewatinya.
Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele, tapi pengalaman tadi menghentakkan perasaannya. Akhirnya ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini.
Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat: “Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”
Pembaca, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan.
Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat, sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat sekitar?
Diposting oleh
Majalah Adinfo Depok
Pukul
Rabu, April 22, 2009
0
komentar
Rubrikasi Refleksi
30 Maret 2009
Kata-Kata Kasar
Suatu hari saya menabrak seseorang saat tergesa-gesa akan masuk lift di kantor. "Oh, maafkan saya!” kata saya sambil menganggukan kepala kepada orang tersebut. “Maafkan saya juga. Saya tidak melihat Anda," balas orang itu dengan sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.
Tiba di rumah, badan saya terasa penat. Pada hari itu juga, saya harus memasak untuk santap malam keluarga. Tanpa saya ketahui, tiba-tiba anak lelaki saya datang dan langsung berdiri di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya terjatuh. "Minggir!" kata saya dengan marah. Ia pergi. Saya tahu, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.
Ketika saya berbaring di tempat tidur, seolah sebuah suara halus berdengung di kepala saya. "Lihatlah, sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan. Tetapi anak yang engkau kasihi, justru kau perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga di dekat pintu."
Saya ikuti suara itu. Saya pergi menuju pintu dapur. Di sana tergeletak beberapa kuntum bunga. "Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu. Merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu."
Seketika saya merasa malu, dan sekarang air mata mulai menetes di pipi. Saya pelan-pelan pergi ke kamar buah hatiku, dan berlutut di dekat tempat tidurnya, "Bangun, Nak, bangun," kata saya. "Apakah bunga-bunga ini engkau petik untuk Ibu?"
Ia tersenyum, "Aku menemukannya jatuh dari pohon. Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru."
"Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu. Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi."
"Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu."
"Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru."
Pembaca, apakah Anda menyadari bahwa jika kita mati besok, kantor atau perusahaan di mana kita bekerja, bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari. Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.
Coba renungkan, apakah jika kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan, ketimbang keluarga sendiri, itu merupakan investasi bijaksana? Saya rasa tidak!
Diposting oleh
Majalah Adinfo Depok
Pukul
Senin, Maret 30, 2009
0
komentar
Rubrikasi Refleksi
28 Januari 2009
Menyeberangi Sungai
Semua murid tercenung mendengar pertanyaan Pak Guru. Melihat murid-muridnya yang bingung, Pak Guru pun kembali berujar, ”Pikirkan baik-baik, jangan sembarangan menjawab. Jawablah dengan memberi alasan kenapa kalian memilih jalan itu. Tuliskan jawaban kalian di selembar kertas. Kita akan diskusikan setelah ini.”
Seisi kelas segera ramai, masing-masing murid memberi jawaban yang beragam. Setelah beberapa saat menunggu, murid-murid menjawab di kertas, Pak Guru segera mengumpulkan kertas dan mulailah acara diskusi. Ada sekelompok anak pemberani yang menjawab: Kumpulkan tenaga dan keberanian, ambil ancang-ancang dan lompat ke seberang sungai. Ada yang menjawab, Kami akan langsung terjun ke sungai dan berenang sampai ke seberang. Kelompok yang lain menjawab: Kami akan mencari sebatang tongkat panjang untuk membantu menyeberang dengan tenaga lontaran dari tongkat tersebut. Dan ada pula yang menjawab: Saya akan berlari secepatnya ke jembatan dan menyeberangi sungai, walaupun agak lama karena jarak yang cukup jauh, tetapi lari dan menyeberang melalui jembatan adalah yang paling aman.
Setelah mendengar semua jawaban anak-anak, Pak Guru berkata, ”Bagus sekali jawaban kalian. Yang menjawab melompat ke seberang, berarti kalian mempunyai semangat berani mencoba. Jika menjawab turun ke air berarti kalian mengutamakan praktik. Sementara yang memakai tongkat berarti kalian pintar memakai unsur dari luar untuk sampai ke tujuan. Sedangkan yang berlari ke jembatan untuk menyeberang berarti kalian lebih mengutamakan keamanan. Bapak senang kalian memiliki alasan atas jawaban itu. Semua jalan yang kalian tempuh adalah positif dan baik selama kalian tahu tujuan yang hendak dicapai. Asalkan kalian mau berusaha dengan keras, tahu target yang hendak dicapai. Seperti pepatah, tidak akan lari gunung di kejar, pasti tujuan kalian akan tercapai. Pesan Bapak, mulai dari sekarang dan sampai kapan pun, Kalian harus lebih rajin belajar dan berusaha menghadapi setiap masalah yang muncul agar berhasil sampai ke tempat tujuan.”
Intinya adalah, kita jangan melarikan diri dari kesulitan. Dalam kenyataan hidup, kita semua sebagai manusia selalu mempunyai masalah atau problem yang harus dihadapi, selama kita tidak melarikan diri dari masalah, dan sadar bahwa semua masalah dan rintangan itu harus diatasi, melalui pola pikir dan cara-cara yang positif serta keberanian kita menghadapi semua itu, tentu hasilnya akan maksimal.
Diposting oleh
Majalah Adinfo Depok
Pukul
Rabu, Januari 28, 2009
0
komentar
Rubrikasi Refleksi
10 Januari 2009
Siswa dan Sekantung Kentang
Cinta dan benci itu bedanya tipis. Tapi jika kebencian sudah merasuki diri kita, habislah semuanya. Berikut ini adalah kisah tentang seorang guru yang mengajarkan arti kebencian kepada para siswanya:Pada hari yang disepakati masing-masing siswa membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah dua, ada yang tiga bahkan ada yang lima. Seperti perintah guru mereka, tiap-tiap kentang diberi nama sesuai nama orang yang dibenci.
Para siswa itu harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, selama seminggu. Hari berganti hari, kentang-kentang itupun mulai membusuk. Para siswa mulai mengeluh, apalagi yang membawa lima buah kentang, selain berat, baunya juga tidak sedap.
Setelah seminggu para siswa tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.
"Bagaimana rasanya membawa kentang selama seminggu?" Tanya Ibu Guru.
Keluarlah keluhan dari para siswa tersebut. Pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut ke manapun mereka pergi.
Ibu Guru pun menjelaskan apa arti dari "permainan" yang mereka lakukan. "Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemana pun kita pergi. Itu hanya seminggu. Bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup? Alangkah tidak nyamannya ..." jelas Ibu Guru.
Nah, pembaca, kebencian memang tak ada nikmatnya. Satu kebencian saja akan membuat hidup kita merana, apalagi menyimpan banyak kebencian dalam diri kita, itu sama saja dengan menghancurkan diri sendiri!
Baca Selengkapnya....
Diposting oleh
Majalah Adinfo Depok
Pukul
Sabtu, Januari 10, 2009
0
komentar
Rubrikasi Refleksi
26 November 2008
“Diajarkan Cara Memandikan Kerbau Gak?”
Mamat, anak seorang petani desa. Untuk pertama kali, dia masuk ke sekolah dasar yang ada di kota, lumayan jauh dari desanya.“Mamat, coba ceritakan, kenapa kamu bersekolah?” tanya Sang Guru.
“Kata Ayah, orang yang sekolah bisa jadi pintar Pak! Kalau saya pintar kan saya bisa kaya. Kalau saya sudah kaya saya mau nyumbang orang-orang miskin yang gak bisa makan di desa saya Pak,” jawab Mamat.
“Lalu cita-cita kamu mau jadi apa?”
“Saya mau jadi petani jagung Pak.”
“Iya, kamu belajar yang rajin ya, biar jadi orang yang pintar. Di sekolah kita nanti akan diajari banyak hal, mulai dari Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, IPS, dan masih banyak lagi. Kamu jadi bisa tahu banyak hal.” Terang Sang Guru.
“Pak Guru, kalau cara menanam jagung diajari di sekolah juga?” Mamat bertanya.
“O, kalau yang itu harus kamu pelajari sendiri..” Sang Guru menimpali sekenanya.
“Kalau pelajaran milih pupuk ada gak Pak?” Mamat kembali bertanya.
“Yang itu juga tidak diajari di sini Mat,” jawab Sang Guru.
Mamat merasa sangat heran mengapa pelajaran-pelajaran yang ia butuhkan malah tidak diajari di sekolah.
“Kalau cara memandikan kerbau?”
“Hahaha.. Mamat, Mamat.. Belajar hal-hal semacam itu bukan di sekolah dong. Kamu ini aneh-aneh saja,” Sang Guru tergelitik hatinya mendengar pertanyaan bocah tujuh tahun yang masih polos itu.
Mamat terdiam. Baginya sangat penting untuk tahu bagaimana caranya menanam jagung, karena kelak ia ingin sekali membantu ayahnya bekerja di ladang. Dan ia juga perlu tahu caranya memilih pupuk yang baik agar jagung-jagungnya tumbuh subur. Bahkan ia juga harus belajar bagaimana caranya memandikan si Bule, kerbau peliharaan ayahnya, karena kalau tidak dimandikan sehari saja baunya sudah sangat busuk.
“Di sekolah bukan tempatnya belajar menanam jagung. Di sekolah itu kita belajar Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS dan Bahasa Inggris. Semuanya sudah diatur di dalam aturan bersama yang disebut kurikulum pendidikan yang dibuat sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia saat ini. Matematika, Bahasa Inggris, IPA, dan IPS adalah ilmu-ilmu yang kita butuhkan. Bangsa Indonesia kalau mau maju, harus mampu menguasai ilmu dan teknologi yang saat ini sedang berkembang di dunia. Kamu mau berbakti pada Negara kan?” jelas Sang Guru.
Pak guru menghela nafas panjang. Dari sorot matanya Mamat tahu Pak Guru sekarang sedang mengatakan sesuatu yang sangat serius.
Mamat mengangguk. Matanya berkaca-kaca. Mamat merasakan semangatnya meledak-ledak di dalam dadanya. Ia sebenarnya tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud dengan kurikulum. Dan ia juga tidak mengerti, ilmu dan teknologi macam apa yang harus dikuasai oleh seorang anak petani seperti dirinya. Tapi kini ia menemukan alasan yang tepat mengapa ia harus sekolah. Yaitu untuk menyelesaikan permasalahan hidup. Semua orang di dusun Mamat juga tahu, yang selalu menjadi masalah bagi dusunnya adalah tikus sawah yang seenaknya saja menggerogoti tanaman jagung yang sudah susah payah ditanami oleh warga. Mamat tidak mau dusunnya kelaparan lagi seperti tahun kemarin saat terjadi gagal panen akibat jagung-jagungnya digerogoti tikus. Mamat ingin dapat menyelesaikan permasalahan hidup di dusunnya. Dan ia yakin sekolah inilah yang akan menjadi solusi bagi permasalahan hidup dusunnya. Mamat berjanji akan belajar sunggung-sungguh ketika nanti diajari cara mengusir tikus sawah. Entah itu nanti akan dipelajarinya di pelajaran Matematika atau mungkin di pelajaran Bahasa Inggris, Mamat tidak tahu
Diposting oleh
Majalah Adinfo Depok
Pukul
Rabu, November 26, 2008
0
komentar
Rubrikasi Refleksi
05 Januari 2008
“Mandikan Aku Bunda…”
Namun, di sisi lain, tidak sedikit wanita yang tetap "teguh" dan bangga dengan kesibukan seputar urusan dapur maupun anak. Bagi mereka, “imbalan” surga untuk jerih payahnya, mampu menyeka wajah dari asap dapur dan mengubah aroma popok bayi menjadi harum mewangi.
Bukan kelebihan maupun kekurangan yang ingin saya sampaikan kali ini. Saya hanya ingin bercerita tentang seorang sahabat yang sebut saja namanya Rani.
Semasa kuliah Rani tergolong berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah jelas, meraih yang terbaik, entah itu dalam bidang akademis maupun bidang profesi yang akan digelutinya.
Sementara saya, lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran, Rani memilih jalur hukum. Sesaat, kami berpisah. Saya mendengar kabar, Rani mendapat pendamping yang "setara" dengan dirinya, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
Aubrey, buah cinta mereka lahir ketika Rani baru saja diangkat sebagai staf diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Rani meraih PhD. Ketika Aubrey berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Frekuensi terbang dari satu kota ke kota lain dan dari satu negara ke negara lain makin meninggi.
Saya pernah bertanya, "Tidakkah Aubrey terlalu kecil untuk ditinggal ?" Dengan sigap Rani menjawab, "Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Everything is ok." Memang, itu betul-betul dibuktikannya. Perawatan dan perhatian anaknya walaupun lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter, betul-betul mengagumkan. Aubrey tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian. Kakek maupun neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu tentang ibu dan bapaknya. "Contohlah ayah-bunda Alif kalau Alif besar nanti." Begitu selalu neneknya berkata. Ya, siapa yang tidak ingin memiliki anak atau cucu yang berhasil dalam bidang akademis dan pekerjaannya.
Mengagumkan memang. Aubrey bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua orang tuanya pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Rani bahkan menyebutnya malaikat kecil. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Aubrey menolak dimandikan baby sitternya. "Aubrey ingin bunda mandikan," ujarnya. Karuan saja Rani menjadi gusar. Tak urung suaminya turut membujuk agar Aubrey mau mandi dengan baby sitternya. Rani dan suaminya berpikir, mungkin karena Aubrey sedang dalam masa peralihan ke masa sekolah jadi agak minta perhatian. Permintaan itu berulang-ulang ditujukan Aubrey kepada orangtuanya.
Suatu sore, saya dikejutkan telepon dari sang baby sitter. "Bu dokter, Aubrey demam dan kejang-kejang, Sekarang di emergency." Setelah terbang saya pun ngebut ke UGD. But it was too late. Tuhan sudah punya rencana lain. Aubrey Si Malaikat Kecil telah tiada.
Rani, bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan kantor barunya, shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan anaknya. Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. "Ini bunda. Bunda mandikan Aubrey," ucapnya lirih, namun teramat pedih.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata, "Ini sudah takdir, iya kan? Aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, dia pergi juga kan?." Saya diam saja mendengarkan.
"Ini konsekuensi dari sebuah pilihan." lanjutnya lagi, tetap tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja berbaur aroma Kamboja. Tiba-tiba Rani tertunduk. "Aku ibunya!" serunya kemudian, "Bangunlah, Aubrey. Bunda mau mandikan Aubrey. Beri kesempatan bunda sekali lagi saja." Rintihan itu begitu menyayat.
Sekali lagi, saya tidak ingin membahas perbedaan sudut pandang pembagian tugas suami-isteri. Hanya saja, sekiranya si kecil kita juga bergelayut: "Mandikan aku, Bunda." Akankah kita menolak? Ataukah menunggu sampai terlambat?
Diposting oleh
Majalah Adinfo Depok
Pukul
Sabtu, Januari 05, 2008
0
komentar
Rubrikasi Refleksi
14 Desember 2007
Pembeli Istimewa

Maka, dengan “pakaian kerja” yang lusuh dan compang-camping, si pengemis pun mendatangi toko kue yang paling terkenal di kotanya. Bukan main terkejutnya si pelayan kala melihat pelanggan yang begitu sederhana, hadir di tokonya yang mewah dan bergengsi itu. Karena itu, dengan terburu-buru ia membungkus sepotong kue tart rasa coklat. Tapi belum lagi ia sempat menyerahkan kue tart itu kepada si pengemis, muncul si pemilik toko dan berseru, “Tunggu, biarkan saya yang menyerahkannya!” katanya seraya menyerahkan bungkusan berisi kue tart itu kepada si pengemis.
Si pengemis memberikan pembayarannya. Sembari menerima pembayaran dari tangan si pengemis, si pemilik toko membungkuk hormat dan berkata, “Terima kasih atas kunjungan Anda.”
Setelah si pengemis berlalu, si pelayan bertanya pada si pemilik toko, “Mengapa harus Tuan sendiri yang menyerahkan kue itu? Setahu saya, Tuan belum pernah melakukan hal itu pada pelanggan mana pun. Selama ini saya dan kasirlah yang melayani pembeli.”
Si pemilik toko itu berkata, “Saya mengerti mengapa kau heran. Semestinya kita bergembira dan bersyukur atas kedatangan pembeli istimewa tadi. Aku ingin langsung menyatakan terima kasih. Bukankah yang selalu datang adalah pelanggan biasa, namun kali ini lain.”
“Mengapa lain?” tanya pelayan itu.
“Hampir semua dari pelanggan kita adalah orang kaya. Bagi mereka, membeli kue di tempat kita sudah merupakan hal biasa. Tapi orang tadi pasti sudah begitu merindukan kue tart bikinan kita, sehingga mungkin ia sudah berkorban demi mendapatkan kue tart itu. Saya tahu, kue tart itu sangat penting baginya. Karena itu saya memutuskan ia layak dilayani oleh pemilik toko sendiri. Itulah mengapa aku melayaninya,” demikian penjelasan sang pemilik toko.
Begitulah, sang pemilik toko yang bijak itu mengajarkan kepada anak buahnya bahwa setiap pembeli atau pelanggan berhak mendapatkan penghargaan yang sama. Nilai seorang pembeli bukan ditentukan oleh prestis pribadinya atau besarnya pembelian.
Begitu pula dalam hidup kita. Tak ada salahnya kita memberikan penghargaan kepada sesama karena perilaku serta niat baiknya dan bukan karena penampilan fisik semata.
Diposting oleh
Majalah Adinfo Depok
Pukul
Jumat, Desember 14, 2007
0
komentar
Rubrikasi Refleksi
